Dunia pendidikan merupakan salah satu sektor paling terpukul akibat pandemi. Secara global, Unicef memprediksi sekitar 290 juta anak berpotensi putus sekolah karena pandemi (Cnnindonesia.com, 24/12/2020). Di Indonesia, masa pandemi hanya semakin menambah berbagai persoalan pendidikan yang telah ada menjadi lebih kompleks.
Tahun ajaran baru biasanya disambut dengan sukacita. Kelas baru, sekolah baru, sahabat baru. Itu dulu. Kini, semua pihak harap-harap cemas. Masuk luring atau tetap daring. Serangan varian delta yang semakin dahsyat telah memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali.
Tidak terasa Sekolah Sukma Bangsa sudah memasuki usia ke-15 pada 14 Juli 2021 nanti. Usia yang—jika dianalogikan dengan usia manusia sedang memasuki masa remaja; mengek splorasi kenakalan secara kreatif dan inovatif, serta mencoba hal-hal baru yang belum pernah dialami dan dirasakan.
Pada saat ini, dunia pendidikan dihadapkan pada situasi dilematis, yaitu tuntutan pentingnya menjaga keselamatan/kesehatan siswa dan ‘ancaman’ akan kehilangan kesempatan belajar (learning loss), yang akan berdampak pada kehidupan dan masa depan siswa secara lebih luas. Meskipun sebenarnya apabila proses switching mentality/mindset di kalangan pengambil kebijakan, guru, dan pemangku pendidik…
‘MEMAAFKAN’ selalu menjadi topik menarik ketika para ilmuwan, cendekiawan, dan pemimpin moral membicarakan ‘penyakit’ yang terjadi dalam relasi manusia dan bagaimana memaafkan bisa menjadi obat atasnya. Desmond Tutu, misalnya, dalam bukunya No Future Without Forgiveness (1999), menyatakan memaafkan adalah suatu hal yang sulit tapi penting untuk membersihkan dosa yang diakibatkan racial …